Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibandingkan dengan rekan-rekannya sehingga dia sering kali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan.
Suatu hari, kotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya, “Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah Anda punya waktu sejenak untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat Anda tentang tarian saya.”
“Oke, menarilah di depan saya selama sepuluh menit,” jawab sang pakar.
Belum sepuluh menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang ke rumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Dia kemudian mengambil sepatu tarinya dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan menari lagi.
Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan sebuah toko di sudut jalan.
Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Tampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar tampak tua dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar.
Sang pakar masih mengenali ibu muda ini dan kemudian mereka bercerita dengan akrab. Si ibu bertanya, “Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan Anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu sehingga Anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah kata pun?”
“Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari dunia tari,” jawab sang pakar.
Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. “Ini tidak adil…!!!” seru si ibu muda. “Sikap Anda telah mematikan semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa Anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya dan bukan tidak acuh begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!”
Si pakar menjawab lagi dengan tenang, “Tidak… Tidak. Saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton Anda sepuluh menit untuk membuktikan tarian Anda bagus. Malam itu, saya juga sangat lelah setelah pertunjukan. Maka, sejenak saya tinggalkan Anda untuk mengambil kartu nama saya dan berharap Anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi, Anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan, satu hal yang perlu Anda camkan bahwa Anda mestinya fokus pada impina Anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.”
“Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu, kamu sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasimu, bisa pula melemahkanmu. Faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka tidak mengacuhkanmu agar hal itu bisa melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi.”
“Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Mungkin Anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati Anda pada waktu itu akan cepat hilang jika anda tetap konsisten pada impian Anda dan sakit hati karena penyesalan tidak pernah bisa hilang selama-lamanya. Seandainya Anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari dan terus menari, mungkin hari ini Anda sudah menjadi penari kelas dunia.”
Rabu, 28 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar